Perasaan gusar, takut dan marah akan benar-benar mengganggu kegiatan pencernaan. Pada saat tuannya pucat pasi karena takut, lambung pun ikut pucat karena jumlah darah yang mengalir ke sana akan berkurang. Pada saat wajah merah karena marah, lambung pun ikut memerah karena membanjirnya darah yang mengalir ke sana. Pada saat tuannya meloncat-loncat kegirangan sewaktu tim sepak bolanya menang, lambung juga akan bergejolak kuat. Sewaktu tuannya mencium asap sate yang sedang dipanggang atau waktu melihat makanan favoritnya pada saat sedang lapar, lambung pun ikut bereaksi membuatnya tahu bahwa dia sudah lapar.Lambung bukan hanya bersimpati pada perasaan tuannya. Lebih dari itu, ia juga turut mengalami apa yang dialami oleh tuannya sehingga dapat dikatakan bahwa ia adalah cermin keadaan pikiran dan bahkan keadaan mental tuannya. Pada saat tuannya merasa sedih lambung akan ikut "sedih" sehingga ia akan enggan bekerja, dengan demikian semua pekerjaan pencernaan akan terhambat.
Perasaan tegang seperti dalam keadaan stres memiliki dampak negatif bagi kegiatan pencernaan dalam lambung. Dalam keadaan seperti ini, lambung beraksi secara berlebihan dengan menuangkan lebih banyak asam lambung sampai tiga kali lipat dari jumlah normal. Asam lambung yang berlabihan ini dapat mengikis dinding lambung hingga meninbulkan borok lambung atau penyakit maag.
Pada saat mengalami gejolak emosi yang kuat sebaiknya makanlah lebih sedikit daripada biasanya. Sebab dalam keadaan seperti ini, memakan cukup banyak makanan hanya akan menambah beban dan mengganggu sistem pencernaan. Gangguan pencernaan ini dapat juga ditandai rasa mual, perut kembung, mulas, bahkan diare atau sembelit.